ZmnTv.com, Tangerang – Di tepi kota Konstantinopel, Kekaisaran Bizantium, seorang ibu muda mengayun-ayunkan bayi yang rewel di pelukannya. Malam itu udara terasa dingin, dan kabar tentang pasukan Muslim yang mendekati perbatasan membuat warga resah. Sang ibu berusaha menenangkan anaknya, tetapi tangisan bayi itu tak kunjung berhenti. Tiba-tiba, suara gemuruh kuda terdengar dari kejauhan. Beberapa tentara Bizantium berlarian sambil berteriak, “Pasukan Muslim! Mereka mendekat!”

Di tengah kepanikan, seorang kakek bijak yang duduk di sudut ruangan berkata lirih, “Tenanglah. Coba sebut nama Umar.”

Sang ibu terkejut. “Umar? Pemimpin kaum Muslim itu? Mengapa?”

“Karena wibawanya menggetarkan jiwa, bahkan bagi mereka yang tak pernah melihat nya pun,” jawab kakek itu.

Dengan ragu, sang ibu membisikkan nama “Umar” ke telinga bayinya. Ajaib! Bayi itu langsung diam, matanya terpejam seperti tersihir ketenangan. Para tentara yang mendengar percakapan itu pun terdiam. Salah seorang berkata, “Dia benar. Aku pernah mendengar kisah dari utusan Romawi: hanya dengan menyebut nama Umar, keadilannya membuat musuh berpikir seribu kali sebelum berbuat zalim.”

Suatu hari, utusan Kaisar Heraklius dari Bizantium tiba di Madinah. Mereka ingin menguji ketangguhan pemimpin kaum Muslimin. Saat bertemu Umar, mereka terkejut: sang Khalifah tidur di bawah pohon kurma tanpa pengawal, jubahnya sederhana, dan tangannya kasar bekas bekerja. “Bagaimana kau menjaga kekaisaran mu tanpa istana atau tentara?” tanya utusan itu.

Umar tersenyum: “Kekuatan sejati bukan pada tembok atau pedang, tapi pada keadilan yang membuat rakyat mencintai pemimpinnya, dan musuh mengakui kebenarannya.”

Utusan itu kembali ke Bizantium dengan gemetar. “Jika pemimpinnya seperti ini, bagaimana dengan rakyatnya?” lapor mereka pada Heraklius. Sejak itu, nama Umar menjadi legenda di Eropa.

Di sebuah desa di Syam (kini Suriah), seorang ibu Nasrani mengeluh pada suaminya, tentara Romawi: “Setiap malam anak kita menangis tak henti. Apa obatnya?”

Sang suami, yang pernah berperang melawan pasukan Umar, menjawab: “Ucapkan nama Umar bin Khattab. Aku bersumpah, saat kami di medan perang, hanya mendengar kabar kedatangannya, prajurit terkuat kami gemetar. Barangkali wibawanya akan menenangkan jiwa anak kita.”

Ibu itu mencoba, dan tangisan bayi pun berhenti. Kisah ini tersebar hingga ke pelosok negeri, menjadi bukti bahwa keadilan dan ketakwaan Umar mengalahkan kekuatan pedang.

Wibawa Umar bin Khattab tidak lahir dari kekejaman, tetapi dari konsistensinya menegakkan kebenaran. Musuh takut padanya karena mereka tahu: di hadapan Umar, kezaliman tak akan dibiarkan. Bahkan anak kecil yang tak mengerti politik merasakan “aura” keteguhan hati seorang pemimpin yang hidup hanya untuk Allah dan rakyatnya. Inilah izzah yang sesungguhnya, kemuliaan sejati: ketika nama seseorang menjadi simbol keadilan, menggetarkan yang batil, dan menenteramkan yang lemah. Wallahu a’lam. (*)

Saeed Kamyabi