Budaya Mudik Lebaran: Antara Hati, Kenangan, Pergerakan Ekonomi dan Tiket Pesawat
Oleh: Saeed Kamyabi
ZmnTv.com, Jakarta – Mudik Lebaran bukan sekadar perjalanan pulang kampung. Ia adalah ritual sosial yang menghubungkan hati, kenangan, dan harapan. Setiap tahun, jutaan perantau kembali ke kampung halaman, membawa serta kisah sukses, kegagalan, dan kebersamaan. Bagi sebagian, mudik adalah ajang berbagi kebahagiaan dan keberhasilan, sementara bagi yang lain, ia menjadi titik balik kehidupan—ada yang memutuskan tak kembali ke perantauan setelah mengalami kegagalan.
Mudik dan Silaturahmi
Lebaran menjadi momentum bagi keluarga untuk berkumpul kembali. Silaturahmi yang dijalin dalam mudik mempererat hubungan antargenerasi, mengingatkan kembali pada nilai-nilai keluarga, dan menumbuhkan rasa memiliki. Tak jarang, mudik juga menjadi ajang rekonsiliasi bagi mereka yang sempat berselisih. Keakraban ini tidak hanya menciptakan kedamaian di hati, tetapi juga memperkuat ikatan sosial dalam masyarakat.
Dampak Ekonomi bagi Daerah
Fenomena mudik membawa dampak ekonomi yang luar biasa bagi daerah asal para perantau. Kegiatan konsumsi meningkat tajam, terutama di sektor makanan, transportasi, penginapan, dan oleh-oleh. Banyak UMKM dan pedagang kecil meraup keuntungan besar dalam periode ini. Bahkan, sektor jasa seperti bengkel, penyewaan kendaraan, dan restoran mengalami lonjakan omzet.
Selain itu, banyak perantau yang memanfaatkan mudik untuk berinvestasi di kampung halaman. Mereka membangun rumah, membuka usaha baru, atau mendanai proyek sosial. Ini menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang berkelanjutan.
Peran Masjid dalam Kemakmuran Masyarakat
Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan sosial dan ekonomi selama mudik. Makanya diimbau agar masjid buka 24 jam, selama masa mudik. Banyak perantau memberikan donasi besar kepada masjid di kampungnya, membantu renovasi, atau mendukung program kesejahteraan seperti santunan anak yatim dan bantuan fakir miskin. Masjid juga berperan sebagai pusat informasi dan koordinasi dalam membantu para pemudik yang mengalami kendala di perjalanan.
Kenaikan Harga Tiket yang Meresahkan
Di balik euforia mudik, terdapat praktik yang merugikan masyarakat, yakni kenaikan harga tiket yang tidak wajar. Banyak maskapai, perusahaan bus, kapal laut, dan kereta api yang menaikkan harga tiket secara drastis di saat genting. Sebagai contoh, harga tiket pesawat dari Jakarta ke Bengkulu yang biasanya tidak sampai Rp 1 juta bisa melambung hingga Rp 6 juta sehari menjelang Lebaran. Fenomena ini bukan hanya membebani pemudik, tetapi juga memunculkan pertanyaan besar: Apakah pemerintah, khususnya dinas perhubungan, mengetahui dan membiarkan hal ini terjadi? Apakah sistem seperti ini dianggap normal oleh pemerintah?
Kasus nyata terjadi ketika saya diminta oleh warga Bengkulu untuk menjadi khatib Idulfitri, harus menghadapi harga tiket pesawat yang tidak masuk akal, terpaksa mencari ba’dal. Anak menantu saya memilih terbang ke Singapura dengan harga tiket hanya Rp700 ribu dibandingkan pulang ke kampung halaman dengan biaya berkali-kali lipat.
Lonjakan harga tiket ini menjadi ironi di tengah upaya pemerintah untuk meningkatkan konektivitas dan aksesibilitas masyarakat. Apakah ada regulasi yang melindungi masyarakat dari praktik pemerasan semacam ini? Jika tidak segera ditindaklanjuti, praktik ini akan terus berulang, membebani pemudik, dan menghambat pergerakan ekonomi yang seharusnya bisa lebih merata.
Potensi Ekonomi Nasional dari Mudik
Secara nasional, pergerakan ekonomi selama musim mudik sangat besar. Data menunjukkan bahwa selama periode Lebaran, transaksi ekonomi dapat meningkat hingga ratusan triliun rupiah. Sektor transportasi mengalami lonjakan signifikan, dengan jutaan tiket terjual untuk moda darat, laut, dan udara. Selain itu, sektor ritel, pariwisata, dan perbankan juga mendapatkan keuntungan dari perputaran uang yang tinggi.
Mudik juga menjadi momen di mana uang dari kota besar mengalir ke daerah, menciptakan pemerataan ekonomi. Dengan meningkatnya daya beli masyarakat di kampung halaman, peluang usaha baru pun muncul, mengurangi kesenjangan ekonomi antara kota dan desa.
Maka, mudik Lebaran lebih dari sekadar tradisi. Ia adalah fenomena sosial dan ekonomi yang membawa dampak luas. Dari sisi hati, ia menghangatkan hubungan keluarga dan memperkuat nilai-nilai silaturahmi. Dari sisi ekonomi, ia menjadi penggerak utama bagi sektor usaha, meningkatkan kesejahteraan daerah, dan memperkuat ekonomi nasional. Namun, pemerintah harus hadir untuk memastikan bahwa mudik tidak menjadi ajang eksploitasi ekonomi oleh pihak-pihak tertentu. Regulasi yang ketat dan pengawasan harga tiket transportasi sangat diperlukan agar semua masyarakat bisa menikmati mudik dengan lebih adil dan nyaman. Wallahu a’lam.
Saeed Kamyabi
0 Comment