Laporan Gemasajid: dari Aceh Tamiang, Lumpur di Lantai, Iman di Hati

Laporan Gemasajid: dari Aceh Tamiang, Lumpur di Lantai, Iman di Hati

ZmnTv.com, Bengkulu – Sinyal di sini masih hilang-hadir, seperti harapan yang kadang mengintip di balik awan mendung. Tapi aku masih bisa mendengar suara itu. Suara sekop menyekop lumpur dari dalam rumah-rumah yang kini lebih mirip kolam keruh. Suara itu berirama, meski berat.

Di rumah Ustadz Fadli, lantainya sudah bersih. Tapi dindingnya masih berbekas garis lumpur setinggi dada orang dewasa. Beliau duduk di teras, memandangi mushaf Al-Qur’an yang basah dan halamannya melekat satu sama lain. Tangannya membelai lembut sampulnya. “Ini peninggalan ayah,” bisiknya. Matanya tidak menangis, tapi kosong. “Bengong,” kata orang sini. Terlalu lelah untuk menangis.

Tak jauh dari sana, ada Masjid Al-Jauhariyah. Di sini, aromanya berbeda. Wangi nasi kawah dan sayur panas menyeruak. 40 orang dari Riau, wajah-wajah yang asing tapi akrab, berjibaku. Mereka membawa berkarung-karung beras, mie, dan air bersih dengan dua truk besar. Keringat mereka bercampur dengan uap dari dapur darurat. Seorang bapak dengan kaos basah tersenyum, “Kami cuma bawa tenaga dan logistik, sisanya kita tawakal sama Allah.”

Dia menyebutkan “ahbab”. Banyak dari mereka, para pemuda yang biasa keliling mengajak kebaikan, pulang dari ‘khuruj’ untuk menemukan rumahnya rata dengan tanah atau terbelah dua. Tas mereka masih berisi kitab, tetapi tempat meletakkannya sudah tiada. Ada yang kini mengungsi ke Medan, terpisah dari medan juangnya.

Di tengah bau lumpur yang menyengat dan kepedihan yang terasa menusuk, ada satu titik yang hangat: dapur umum di masjid itu. Dari situlah bukan hanya makanan yang dibagikan, tapi juga secercah kepastian. Bahwa di tengah musibah yang membuat orang lupa waktu, lupa shalat jamaah, masih ada yang ingat untuk menghidupkan sunnah: memberi makan.

Mereka membersihkan lumpur. Tapi lumpur di hati—rasa kehilangan, ketakutan, kepasrahan paksa—itu tidak bisa dibersihkan dengan sekop.

Mereka butuh Kita

Butuh tangan kita yang mengulurkan bantuan, sekecil apapun. Untuk menggantikan mushaf yang rusak. Untuk membeli terpal dan papan bagi yang rumahnya bocor. Untuk memastikan dapur di Masjid Al-Jauhariyah tetap berasap, setiap hari, sampai senyum kembali muncul bukan hanya karena kuat, tetapi karena ada yang peduli.

Karena bantuan kita bukan hanya tentang uang atau barang. Itu tentang mengembalikan iman yang mungkin ikut tersapu banjir: iman bahwa mereka tidak sendirian.

Mari wujudkan kepedulian kita. Salurkan bantuan melalui Gemasajid yang fokus rekondisi masjid:

Yayasan Masjid Makmur Indonesia

Bank Syariah Indonesia (BSI)

No. Rekening: 7169004727

Setiap rupiah dari Anda akan menjadi sekop untuk mengikis kepedihan dan menjadi batu bata untuk membangun kembali harapan saudara-saudara kita di Aceh Tamiang. (Muhammad Sucipto & Budiharjo)

Sekretariat Gemasajid

Masjid Raudhatul Hakim, Vila Serpong

Tangerang Selatan

CP: 081399108585

Avatar Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *